Aku dan Cinta
dipenghujung senja.
cahaya matahari sore, seakan menembus kisi, menembus
setiap relung hati
kemudian tumbuh menjadi bunga-bunga rindu
meninggi dan menjauh
Kita selalu melambai dipenghujung senja
suara jari pada papan huruf, menjadi isyarat tentang
kejauhan yang bisu
terbayang sayapmu mengepak, seperti
berontak pada belitan serpih waktu
dibawah matahari sore yang melenyapkan kehadiranmu.
waktu terus menderu, mengabarkan tentang kerinduan
tak berujung.
Aku ingin menciummu, dan mengajakmu bercerita
tentang hati yang dingin, kataku disuatu waktu.
Dan, kitapun sama-sama terdiam, hingga rembang senja kembali
membawamu dari hadapanku.
ucapan salam selalu terasa perih
membawa udara sore yang kembali membentangkan jarak.
(“kamu menyayangiku, dan akupun sayang kamu, aku takut rasa itu kelak
akan jadi belati yang membunuhku. Biarkan aku sendiri. Aku sedang tidak ingin
bermimpi,” katamu sambil menangis )
Jogja, 22 Juli 2003

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home