Berjalan lagi dikotamu,yang berpendar pendar
dipelukan dingin yang menghampar.disitu, kembali kutemukan
bayangan terkapar.
Dibawah temaram lampu lampu tua, kukenangkan diri yang pernah meringkuk
seperti gelandangan dalam rumah rumah kardus.
tak ada lagi yang bisa aku rayakan, kawan.
Selimut dingin sehabis hujan membayangkan kehangatan yang tak
pernah usai.
Entah kau ada dimana saat aku datang lagi kekotamu.
Saat kulalui jalan jalan kelam, sendirian.
Hanya bayangmu yng datang menguras selurus isi kenangan.
Mungkin kini kau sedang mensukuri nasib, dikota penuh debu, bersama
ketentraman yang syahdu.
Malang, panggilkan aku seorang gadis pemetik apel yang tertidur.
Seusai menghitung keranjang dibawah sejuknya angin pagi.
Biarkan dia memberi aku pengharapan tentang esok dengan matahari,
yang begitu lambat meninggi, melintasi pucuk-pucuk pohon akasia.
Sementara saat malam, buram dan tertahan, sebab bulan tak mampu
kalahkan dingin, terhalang bayangmu yang angkuh.
Malang, dijalan-jalan kotamu, hari esok seakan terseok diaspal yang
lembab.
bayang-bayang pohon kacau menahan himpitan langit yang dusta.
Dan beberapa meter sebelum bundaran balaikota, tak bisa lagi kutandai
waktu, saat jam berdentang.
Senja atau pagikah yang memercikan embun?
Kaca-kaca buram pada jendela kamar hotel yang temaram.
Seperti lukisan hatimu yang senantiasa terburu.
Berpijak lagi dikota ini, mengingatkan hati pada diri yang pernah
diracuni minyak wangi si cantik morbid.
Menemukan bayangannya yang menyerahkan nasib yang tergantung jauh
dikilauan bintang.
Kembali kuimpikan, sebuah kota yang dihuni kaum peri, dengan sayap yang
panjang dan lebar,menjulur sampai ketapal batas.
Batas antara percintaan dan perseteruan kita.
Malang, july’04